Pengajaran terakhir kita tentang kelimpahan Allah berfokus pada tujuan dari kelimpahan itu sendiri.

Bagian terakhir dari kitab 2 Korintus 9:8 mengatakan:

“Supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” TB

Tujuan Allah memberikan kelimpahan bukan sekedar untuk kepuasan diri pribadi saja. Jangan salah paham. Saya percaya Allah senang melihat kita menikmati penyediaan-Nya. Itu membuat Dia bahagia. Namun itu bukanlah tujuan akhir-Nya. Sebaliknya, kita akan berkelimpahan “di dalam pelbagai kebajikan.” Tujuan dari kelimpahan adalah agar kita mampu melakukan segala sesuatu yang Allah kehendaki dengan penuh kecukupan.

Salah satu sifat umat Kristen yang luar biasa dalam Perjanjian Baru adalah mereka tidak pernah berkata, “Jika kami punya cukup uang, kami akan melakukan ini.” Mereka hanya berkata, “Kami akan pergi ke sini… kami akan pergi ke sana… kami akan melakukan ini.” Masalah uang tidak pernah mereka pertanyakan. Meskipun banyak berbicara tentang uang dan sangat praktis dalam menanganinya, rencana mereka tidak bergantung pada uang. Berbeda sekali dengan gereja masa kini yang banyak perencanaannya bergantung pada uang.

Kebajikan Yang Utama

Satu kebajikan khusus yang Allah cukupi secara berlimpah adalah 'kebajikan' yang utama: agar kita dapat menyediakan tempat kediaman bagi-Nya. Tujuan Allah sejak zaman penciptaan dan seterusnya adalah untuk berdiam bersama dengan umat manusia. Kita sering berbicara seolah-olah tujuan akhir kita adalah untuk masuk surga. Namun, ketika membaca Alkitab, saya menemukan bahwa tujuan akhir kita adalah membawa surga ke bumi. Dalam pasal penutup Alkitab, kita tidak menemukan bumi naik ke surga; malah kita menemukan surga lah yang turun ke bumi. Tujuan Allah yang utama sejak zaman penciptaan hingga saat ini adalah untuk berdiam bersama umat manusia.

Pertimbangkan dua contoh bersejarah dalam Alkitab di mana Allah meminta umat-Nya, bangsa Israel, untuk menyediakan tempat kediaman bagi-Nya. Tempat kediaman pertama adalah kemah suci Musa. Yang kedua adalah bait suci Salomo. Dalam setiap kisah, Allah telah menyediakan umat-Nya dengan kelimpahan terlebih dahulu, sehingga dari kelimpahan tersebut mereka dapat mengembalikan kepada-Nya semua yang diperlukan untuk menyediakan tempat kediaman yang sesuai dengan kemuliaan-Nya.

Allah juga memberikan spesifikasi yang akurat mengenai tempat kediaman seperti apa yang Dia inginkan. Dia tidak membiarkan satu pun terjadi secara kebetulan. Semuanya ditentukan secara akurat, dan semuanya memiliki kualitas terbaik. Tidak ada satu pun yang bernilai rendah atau berkualitas buruk dalam segala hal yang Allah perlukan bagi tempat kediaman-Nya. Saya percaya hal itu adalah sesuai dengan sifat Allah.

Pertama, mari kita melihat dengan cermat penyediaan Allah untuk kemah suci Musa dan bagaimana hal itu terjadi. Lalu kita akan melihat penyediaan Allah bagi bait suci Salomo dan bagaimana hal itu terjadi. Setelah itu, kita akan menutupnya dengan memberikan contoh penerapan terkini bagi Anda dan saya.

Kemah Suci Musa

Dalam kitab Kejadian, Allah membuat perjanjian dengan Abraham dan memberinya gambaran tentang perbudakan yang akan dialami oleh bangsa Israel di tanah Mesir.

Firman TUHAN kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. (Kejadian 15:13–14 TB)

Alkitab versi The Living Bible mengatakan, “mereka akan keluar dengan kekayaan yang besar.” Ketika Allah meramalkan perbudakan bangsa Israel di Mesir dan pembebasan mereka kemudian, Dia menekankan bahwa ketika mereka ditebus dan dibebaskan, mereka akan keluar dengan kekayaan yang besar. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini merupakan bagian dari tujuan Allah yang telah ditetapkan sebelumnya. Kita melihat ramalan ini digenapi dalam kitab Keluaran 12. Hal ini terjadi sebagai akibat langsung dari kejadian di malam Paskah, ketika keluarga-keluarga bangsa Israel diselamatkan dan setiap anak sulung orang Mesir dibunuh.

“Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.” (ayat 35–36 TB)

Alkitab versi The Living Bible mengatakan, “mereka melucuti orang Mesir.” Faktanya adalah bangsa Israel merampas semua milik orang Mesir—emas, perak, pakaian. Apa pun yang mereka lihat dan minta, mereka dapatkan. Mengapa? Karena orang-orang Mesir sangat ketakutan sehingga yang mereka inginkan hanyalah menyingkirkan orang-orang ini, berapapun harganya. Ada gambaran indah mengenai keluarnya bangsa Israel dari Mesir dalam kitab Mazmur 105:37 TB: “Dituntun-Nya mereka keluar membawa perak dan emas, dan di antara suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir.”

Penebusan membawa penyediaan total bagi kebutuhan orang-orang yang ditebus. Bagi bangsa Israel di Mesir, semuanya terjadi karena iman di dalam darah anak domba Paskah. Iman itu melepaskan pemenuhan akan segala kebutuhan—rohani, jasmani, dan materi. Sekitar tiga juta orang berbaris keluar dari Mesir. Tidak ada seorangpun yang tertatih-tatih, tidak seorangpun yang terpincang-pincang, tidak seorangpun yang menggunakan tongkat atau penopang. Di gereja saat ini, jalan kita masih panjang untuk mencapai standar tersebut, namun saya percaya itu adalah standar Allah. Saya percaya penebusan sudah selesai dan mencakup setiap aspek dalam kehidupan kita.

Ketika Allah menebus mereka, Dia mengurus semuanya dalam satu tindakan–mereka semua keluar dengan sehat dan kaya, dengan emas dan perak yang berlimpah dan segala sesuatu yang berharga. Namun kita harus memahami bahwa Allah mempunyai tujuan dalam semua ini. Allah memberi Musa rencana untuk mendirikan kemah suci dimana Dia akan berdiam di tengah-tengah umat-Nya. Kemudian Dia memberi tahu Musa bahwa bangsa itu harus menyediakan bahan dan tenaga untuk membangun Kemah Suci tersebut.

“Berkatalah Musa kepada segenap jemaah Israel: “Inilah firman yang diperintahkan TUHAN, bunyinya: Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN: emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit-kulit lumba-lumba, kayu penaga, minyak untuk penerangan, rempah-rempah... permata krisopras... Segala orang yang ahli di antara kamu haruslah datang untuk membuat segala yang diperintahkan TUHAN.’” (Keluaran 35:4–10 TB)

Bangsa Israel harus membawa persembahan mereka dari kelimpahan yang telah disediakan Allah melalui penebusan untuk membuat tempat kediaman yang diinginkan Allah. Dia tidak menanyakan apa pilihan mereka mengenai tempat kediamanNya. Harus ada emas, perak dan perunggu. Segala sesuatu harus dibuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Namun, tuntutan-tuntutan Allah bukanlah tidak masuk akal karena Dia telah memberi mereka semua yang mereka perlukan untuk menaati arahan-Nya. Hasil akhirnya dijelaskan dalam kitab Keluaran 36:

“Lalu Musa memerintahkan, supaya dimaklumkan di mana-mana di perkemahan itu, demikian: “Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.” Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi. Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup untuk melakukan segala pekerjaan itu, bahkan berlebih.” (ayat 6–7) TB

Perhatikan kalimat penutupnya: “cukup… bahkan berlebih.” Menurut definisinya, hal itu merupakan kelimpahan. Sayangnya, kita jarang melihat situasi seperti ini di jemaat modern. Penebusan membawa kelimpahan, namun tujuan penebusan adalah tempat bagi Allah untuk berdiam di antara umat-Nya. Dari apa yang Allah berikan kepada kita melalui penebusan, Dia meminta kita untuk memberikan kembali kepada-Nya untuk menyediakan tempat kediaman bagi Dia.

Bait Suci Salomo

Daud pertama kali diperkenalkan kepada kita di Kitab Suci dalam situasi yang sangat sederhana—putra bungsu dalam keluarga yang tidak kaya raya, tinggal di pegunungan berbatu di Yehuda, menggembalakan domba ayahnya (lihat 1 Samuel 16:6–13) . Namun pada akhir hidupnya, Daud telah menghabiskan uang senilai jutaan dolar. Sebelum kematiannya, ia menghibahkan kepada rumah Allah—kepada bait suci yang akan dibangun Salomo—harta benda dengan nilai sekitar 126 juta dolar dari kekayaan pribadinya.

Salah satu kenyataan penting yang perlu kita sadari adalah bahwa pada masa pemerintahan Daud terjadi peningkatan besar dalam kekayaan bangsa Israel. Sulit untuk mengetahui cara menghitungnya, tetapi produk nasional bruto mereka pasti berlipat ganda ratusan kali lipat. Negara yang tadinya hidup miskin dan penuh perjuangan, hidup dari pertanian, peternakan sapi dan domba, kini menjadi sangat kaya raya pada akhir pemerintahan Daud.

Itu bukan lah suatu kebetulan. Kekayaan Israel merupakan bagian dari berkat Allah atas Daud. Kita tahu bahwa kapan pun Allah menemukan seseorang yang berkenan di hati-Nya untuk memimpin umat-Nya, Dia akan memberkati umat-Nya melalui orang tersebut. Tetapi selain itu, Allah memiliki tujuan lain. Di akhir masa pemerintahan Daud, Allah ingin bangsa Israel siap untuk membangun bait suci yang akan dipimpin oleh Salomo. Sekali lagi, tujuan Allah adalah tempat kediaman di mana Dia bisa berada di antara umat-Nya. Dan sekali lagi, setiap detail dari tempat kediaman itu didefinisikan dengan akurat. Tidak ada yang tersisa bagi imajinasi orang-orang yang membangunnya.

Catatan tentang barang-barang yang diberikan untuk pembangunan bait suci Salomo mengandung beberapa bahasa paling megah yang pernah ditemukan dalam tulisan mana pun. Ada sesuatu yang menakjubkan dari kata-kata yang digunakan Daud untuk menggambarkan persiapan yang telah dia lakukan bagi bait suci Allah:

“Dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam.” (1 Tawarikh 29:2 TB)

Perhatikan kata penutup dari deskripsi Daud—sangat banyak. Ini menyimpulkan penyediaan yang digunakan untuk membangun bait suci sama seperti hal itu juga menyimpulkan penyediaan yang digunakan untuk membangun kemah suci. Kelimpahan sebenarnya adalah tingkat penyediaan yang selalu Allah sediakan bagi umat-Nya. Tidak ada yang terbatas atau perhitungan dalam hal itu. Dia adalah Allah kelimpahan. Dari kekayaan pribadinya, Daud menyediakan emas yang setara dengan sekitar 95 juta dolar. Tidak termasuk perak atau bahan lainnya (lihat ayat 3–4). Selanjutnya, kita membaca apa yang juga diberikan oleh para pemimpin dari harta pribadi mereka:

“Lalu para kepala puak dan para kepala suku Israel dan para kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk raja menyatakan kerelaannya. Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi.” (ayat 6–7 TB)

Menurut perhitungan saya, jumlah emas dalam ayat ini bernilai sekitar 158 juta dolar. Selain itu, Daud dan para tetua memberikan emas senilai 253 juta dolar dari kekayaan pribadi mereka. Jumlah ini belum termasuk perak, batu mulia, kayu, marmer, dan semua barang lainnya yang disumbangkan – sungguh mengejutkan! Kita perlu mengingat dalam semua ini bahwa Daud memulai hidupnya sebagai seorang anak gembala di perbukitan berbatu Yudea.

Tempat Kediaman Allah yang Utama

Kebangkitan perekonomian bangsa Israel yang memungkinkan pembangunan bait suci tidak memakan waktu lama—kurang dari tujuh puluh tahun. Saya percaya Allah sedang melakukan pekerjaan di zaman kita yang serupa dengan apa yang Dia lakukan bagi bangsa Israel di zaman Daud, karena Allah memiliki suatu tujuan.

Apa tujuannya? Dia menginginkan tempat kediaman. Dia ingin berdiam bersama dengan umat manusia. Dan Dia sangat akurat mengenai spesifikasi tempat kediaman-Nya. Dia tidak lah perhitungan. Dia menginginkan segalanya dengan kualitas terbaik. Namun, tempat kediaman yang dibangun untuk Allah pada zaman ini berbeda jenisnya dengan kemah suci dan bait suci. Ciri khas tempat kediaman Allah saat ini digambarkan oleh Rasul Paulus sebagai berikut:

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” (1 Korintus 3:16–17 TB)

Dengan cara serupa, Rasul Petrus mengatakan:

“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus…” (1 Petrus 2:5 TB)

Di sini kita berbicara tentang tempat kediaman Allah yang terakhir, yang tidak terbuat dari emas atau perak atau dari bahan-bahan berharga luar biasa yang digunakan dalam bait suci Salomo. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga di mata Allah, yaitu umat manusia. Ketika Allah menginginkan tempat kediaman yang paling berharga, Dia memilih tempat yang terdiri dari umat manusia, bukan materi. Dan kita adalah umat-Nya! Kita adalah tempat kediaman Allah!

Jika Allah begitu pemilih dan begitu dermawan dalam membangun kemah suci Musa, dan terlebih lagi dalam membangun bait suci Salomo—yang keduanya merupakan bangunan sementara—menurut Anda apakah Dia akan menjadi kurang pemilih atau kurang dermawan mengenai tempat kediaman-Nya yang terakhir dan yang kekal , yaitu kita?

Untuk menyelesaikan tempat kediaman ini akan membutuhkan tenaga kerja dan biaya yang jauh melebihi semua yang dikerahkan ke bait suci Salomo. Batu-batu hidup yang telah dipilih Allah harus digali dari segala jenis bangsa di muka bumi, karena Allah tidak akan puas sampai “dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” terwakili (Wahyu 7:9). Oleh karena itu, Allah telah menetapkan bahwa:

“Dan Injil kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa.” (Matius 24:14 TB)

Saya yakin ada alasan tertentu mengapa contoh kemah suci dan bait suci ini diberikan dalam Perjanjian Lama. Allah ingin kita memahami betapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan tempat kediaman-Nya yang terakhir di zaman ini. Tentu saja kita mengetahui bahwa kita tidak bisa membayar harga penebusan kita, dan keselamatan yang diberikan kepada kita juga tidak bisa diukur dengan uang.

Tetapi jika kita menganggap serius tanggung jawab untuk memberitakan Injil Kerajaan kepada miliaran orang di dunia saat ini, maka masuk akal untuk mengakui bahwa hal itu akan memakan biaya miliaran dolar. Mata uang dolar secara harfiah. Benar-benar tidak realistis membicarakan penyelesaian pekerjaan tanpa dana.

Mengisi Bait Suci

Penyediaan Allah yang diperlukan untuk tempat kediaman-Nya yang terakhir ini diungkapkan dalam kitab Hagai 2:7-10:

“Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam.” (ayat 7-8 TB)

Rumah apakah yang dimaksud disini? tempat kediaman Allah. Di sini Allah tidak berbicara tentang bait suci yang dibangun pada zaman Hagai, karena bait suci itu telah dihancurkan sembilan belas abad yang lalu. Dia berbicara tentang akhir zaman ini dan tempat kediaman-Nya pada saat ini. (Lihat juga Ibrani 12:25–29.) Allah berfirman, “Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan.” Namun pertama-tama Dia berkata bahwa kekayaan bangsa-bangsa akan digunakan untuk menyediakan semua yang dibutuhkan untuk membangun rumah yang sesuai dengan kemuliaan-Nya. Pernyataan berikutnya dalam ayat 9 sangatlah penting: “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” TB

Ketika Yesus mati dan bangkit dari kematian, seluruh harta di bumi ini menjadi milik-Nya yang sah. Dia adalah ahli waris segala sesuatu, dan kita adalah ahli waris bersama-Nya. Kita berbagi warisan. Jadi, pada kenyataannya, kita mempunyai hak yang sah atas perak dan emas melalui Yesus Kristus. Melanjutkan apa yang Allah katakan dalam bagian kitab Hagai pasal 2 ini, di ayat 10 Allah kembali ke tema kemuliaan:

“Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.” TB

Sekali lagi, jelas sekali bahwa penyebutan bait suci ini bukanlah merujuk pada bait suci yang dibangun pada zaman Hagai. Bait suci itu musnah dalam perang. Sebaliknya, hal ini mengacu pada tempat kediaman Allah pada akhir zaman ini. Di manakah tempat kediaman Allah pada akhir zaman ini? Anda dan saya, umat-Nya, gereja-Nya yang lengkap, Tubuh-Nya! Tuhan berjanji bahwa untuk tujuan pembangunan tempat kediaman itu, kekayaan bangsa-bangsa akan datang. Mari kita lihat gambaran terakhir dalam kitab Yesaya pasal 60. Sekali lagi, perkataan ini diucapkan kepada umat Allah pada akhir zaman.

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu.” (ayat 1–5 TB)

Ada hubungan langsung antara pengungkapan kemuliaan Allah dengan kekayaan bangsa-bangsa. Tujuan Allah adalah mempunyai tempat kediaman yang sesuai dengan kemuliaan-Nya. Untuk tujuan ini, Dia akan menyediakan bagi umat-Nya kekayaan bangsa-bangsa. Apakah Anda percaya hal itu berlaku bagi kita saat ini? Saya percaya! Mengapa kita membutuhkan kekayaan ini? Supaya kita bisa melengkapi tempat kediaman Allah yang terbuat dari batu-batu hidup. Umat manusia. Jutaan orang yang tak terhitung jumlahnya. Namun banyak di antaranya yang belum terjangkau sekalipun oleh Injil Yesus Kristus.

  • Hal itu akan membutuhkan pengorbanan yang banyak
  • ‍‍Hal itu akan memakan korban jiwa
  • Hal itu akan memakan waktu
  • Hal itu akan memerlukan biaya
  • Hal itu akan mengorbankan semua yang kita miliki

Tetapi Allah akan menyediakan segala kelimpahan bagi kita untuk menyelesaikan pekerjaan membangun tempat kediaman-Nya.

2
Bagikan