Puji-pujian di Tengah Gurun Pasir

Derek Prince
Published: 2008
Last Updated: Juli 2026
Read Time: 2
Dengarkan kesaksian yang penuh kuasa dari seorang prajurit Perang Dunia II yang kehilangan rasa akan hadirat Allah saat bertugas di padang gurun yang keras. Ia membagikan pelajaran penting yang Tuhan ajarkan kepadanya tentang bagaimana ketidakbersyukuran dapat memadamkan Roh Kudus dan apa arti mempersembahkan korban pujian.
Ketika saya masih berdinas dalam tentara Inggris semasa Perang Dunia II, saya ditempatkan bersama pasukan-pasukan di daerah gurun pasir di Afrika Utara. Ada satu aspek negatif pada kehidupan di daerah gurun pasir, yaitu bahwa suasana di situ cenderung membuat orang menggerutu dan berkeluh kesah. Hal ini juga terjadi berkali-kali dengan bangsa Israel sehingga menyebabkan Tuhan marah dan tidak berkenan kepada mereka.
Saya pun mulai berkeluh-kesah, karena merasa begitu bosan dengan padang pasir, rangsum makanan, dan sumpah-serapah para prajurit Inggris. Ketika itu saya merasa seakan-akan hadirat dan berkat Allah sudah hilang dari kehidupan saya.
Akhirnya saya memutuskan untuk menyisihkan satu hari khusus untuk berpuasa dan untuk bertanya kepada Tuhan mengapa hadirat-Nya seakan-akan menghilang. Saya berkata: “Tuhan, mengapakah Engkau tidak lagi dekat kepadaku? Mengapakah aku harus terus hidup di padang pasir dengan keadaan yang begitu membosankan dan melelahkan ini?”
Menjelang petang hari Tuhan memberikan jawaban-Nya kepadaku. Ia bicara cukup jelas dan berkata: “Mengapa engkau tidak mengucapkan syukur kepada-Ku? Mengapa engkau tidak lagi memuji-muji Aku?” Saya pun mulai merenungkan jawaban Tuhan itu, lalu menyadari bahwa saya kehilangan hadirat Tuhan karena saya memang mulai bersikap kurang berterima kasih.
Akhirnya Roh Kudus mengingatkanku akan beberapa ayat Alkitab, termasuk 1 Tesalonika 5:16-19:
“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Janganlah padamkan Roh.”
Sekali lagi saya katakan, yang dimaksudkan adalah bahwa dengan tidak selalu bersukacita, berdoa terus dan mengucapkan syukur, sesungguhnya saya telah memadamkan api Roh Kudus dalam kehidupanku sendiri.
Tuhan mengharapkan agar kita senantiasa mempersembahkan kurban puji-pujian dengan mulut kita – bukan hanya diam-diam, di dalam hati. Kita harus memuji-muji Tuhan secara vokal, sambil mengucap syukur kepada nama Tuhan!
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, aku memuji-Mu. Ku-deklarasikan, aku takkan memadamkan Roh tetapi senantiasa bersukacita, berdoa tiada henti-hentinya, dan mengucap syukur dalam segala perkara. Aku akan senantiasa mempersembahkan kurban puji-pujian. Amin.

Unduh Gratis
Renungan ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan untuk penggunaan pribadi atau gereja.
Kode: WD-B097-362-IND









