Pentingnya Ketekunan

Derek Prince
Published: 2008
Last Updated: Juli 2026
Read Time: 2
Kegagalan tragis bangsa Israel untuk masuk ke Tanah Perjanjian menjadi peringatan yang serius bagi kita saat ini. Kita dipanggil untuk bersungguh-sungguh masuk ke dalam perhentian Allah, dengan sungguh-sungguh menghindari kemalasan rohani yang membawa kepada ketidakpercayaan dan ketidaktaatan.
Ajakan “mari kita” yang kedua yang kita baca dalam Ibrani pasal 4 adalah ajakan untuk “Ayolah kita rajin” [untuk berusaha dengan sungguh-sungguh]:
“Karena itu baiklah kita berusaha [“rajin”, dalam teks KJV] untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidak-taatan itu juga” (Ibrani 4:11).
Sebelum ini saya mengatakan bahwa peringatan ini sesungguhnya adalah karena apa yang terjadi dengan bani Israel ketika dalam perjalanan di padang gurun, meninggalkan negeri Mesir. Sebagian besar umat Israel tidak pernah sampai di negeri Perjanjian itu karena sikap-sikap dan perbuatan mereka yang salah. Negeri Perjanjian itu sesungguhnya merupakan destinasi mereka, tempat di mana Allah berjanji akan memberikan istirahat/ keteduhan kepada mereka.
Di padang gurun itu mereka jatuh dalam dosa. Menurut Alkitab, mayat-mayat mereka bergelimpangan di padang gurun dikarenakan tidak percaya dan tidak patuh.
“(Lihat Bilangan 14:29, 32.)”
Dan karena kurang percaya serta tidak patuh, mereka pun gagal mendengar suara Tuhan. Mereka menjalankan semua peraturan agama (yang lahiriah), tetapi hal yang paling hakiki dalam ibadah yang benar tidak pernah mereka alami, yaitu mendengar suara Tuhan.
Jadi, itulah kesalahan yang dilakukan oleh bangsa Israel, sebuah kesalahan fatal. Mula-mula penulis Ibrani itu berkata:
“Baiklah kita waspada [takut]” (Ibrani 4:1),
tetapi sesudah itu (kembali melihat contoh yang terjadi dengan Israel) ia berkata: “Ayo, kita rajin berusaha.” Saya kira ajakannya itu memang wajar sekali. Jikalau kita sungguh memperhatikan bahaya dari sikap rohani tersebut dan sungguh-sungguh “takut” salah lagi, pastilah untuk selanjutnya kita akan “berusaha dengan sungguh-sungguh (rajin)”.
Mari kita melihat sebentar, apa yang dimaksudkan dengan “kerajinan” itu. Salah satu cara untuk mengetahui arti dari perkataan tertentu adalah dengan melihat kata kebalikannya. Kebalikan dari rajin adalah malas. Alkitab tidak pernah sedikit pun memuji sifat malas. Namun patut disayangkan, di kalangan gereja zaman sekarang jarang sekali kita mendengar pendeta berkhotbah mengenai kemalasan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, mendengar suara Tuhan adalah kenyataan batiniah yang hakiki untuk ibadah yang benar. Aku akan berusaha untuk rajin. Amin.

Unduh Gratis
Renungan ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan untuk penggunaan pribadi atau gereja.
Kode: WD-B097-288-IND









