Pertumbuhan dan Pertambahan

Derek Prince
Published: 2008
Last Updated: Juli 2026
Read Time: 2
Alkitab memperingatkan kita agar tidak menjadi malas secara rohani, melainkan memanggil kita untuk rajin dan terus-menerus menambahkan kepada iman kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tanpa usaha ini, kita berisiko menjadi tidak efektif dan tidak berbuah, bahkan bisa lupa bahwa kita telah disucikan dari dosa-dosa kita yang dahulu.
Penulis Ibrani kemudian meneruskan (dengan melanjutkan tema “kerajinan” atau “kesungguhan”):
“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban [“malas”, dalam teks KJV], tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah” (Ibrani 6:11–12).
Kita tidak hanya harus rajin/ bersungguh-sungguh, tetapi harus rajin/ bersungguh-sungguh sampai titik terakhir. Kebalikan dari “rajin” disebut dengan jelas di sini: “menjadi lamban” (malas). Bukan malas secara jasmani, melainkan malas secara rohani.
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha [“sungguh rajin,” dalam teks KJV] untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” (2 Petrus 1:5–7)
Kehidupan Kristiani tidak boleh bersifat statis, yaitu tidak bergerak maju. Kehidupan orang Kristen semestinya selalu mengalami pertambahan, pertumbuhan dan kemajuan. Bila kita menjadi statis (tidak maju-maju), sebenarnya kita sedang mundur. Untuk menambah-nambahkan, seperti digambarkan dalam ayat-ayat di atas, diperlukan kerajinan/ kesungguhan. Petrus selanjutnya menulis, dan memakai kata “apabila” atau “jikalau”:
“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.” (ayat 8–9)
Percayakah saudara, bahwa dosa-dosa seseorang yang dahulu bisa dihapuskan sama sekali, sehingga ia bahkan lupa bahwa ia pernah melakukannya? Kedengarannya sesuatu yang mustahil, bukan? Tetapi menurut Alkitab hal itu mungkin.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, aku perlu meniru orang-orang yang dengan iman dan kesabaran mewarisi apa yang telah dijanjikan. Aku akan berusaha untuk rajin. Amin.

Unduh Gratis
Renungan ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan untuk penggunaan pribadi atau gereja.
Kode: WD-B097-289-IND









