Penggenapan Janji-janji Tuhan

Derek Prince
Published: 2008
Last Updated: Juli 2026
Read Time: 2
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sepertinya Tuhan menunggu sampai saat-saat terakhir untuk menggenapi janji-janji-Nya? Itu karena banyak dari janji-Nya bersifat bersyarat, dirancang untuk mengosongkan kita dari ketergantungan pada diri sendiri, sehingga hanya Dia saja yang menerima segala kemuliaan atas hal-hal yang mustahil.
Sebagian besar janji Tuhan selalu disertai persyaratan tertentu. Artinya, apabila Tuhan menjanjikan sesuatu Ia selalu berkata: “Jika kamu melakukan begini, maka Aku akan melakukan begitu.” Kita tidak berhak meminta Tuhan untuk menepati janji-Nya, kecuali kita terlebih dahulu memenuhi persyaratan yang ditetapkan-Nya.
Kita harus menyadari bahwa penggenapan janji Tuhan tidaklah bergantung kepada keberadaan kita, melainkan tergantung pada sejauh mana kita sudah memenuhi persyaratan Tuhan. Kita harus tetap memperhatikan persyaratan-persyaratannya dan memastikan bahwa syarat itu dipenuhi. Janganlah sebaliknya, kita terlalu dipengaruhi oleh keadaan sehingga tidak berusaha untuk memenuhi persyaratannya.
Mari kita melihat contohnya, yaitu Abraham. Tuhan menjanjikan seorang anak lelaki kepada Abraham, untuk menjadi ahli warisnya. Tetapi setelah mencapai usia 99 tahun Abraham belum juga mendapat keturunan. (Karena mencari akal, Abraham mendapatkan Ismail sebagai anaknya, tetapi akhirnya anak itu tidak boleh menjadi ahli warisnya.) Mengapa Tuhan membiarkan Abraham mencapai usia lanjut demikian sebelum menepati janji-Nya? Mengapakah Tuhan sering membiarkan umat-Nya mengalami keadaan yang tampaknya mustahil sebelum Ia menepati janji-Nya?
Pertama, tujuan pertama adalah untuk terlebih dahulu “menghabiskan” semua sikap percaya diri yang berlebihan. Kita menyadari bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Tubuh jasmani Abraham sudah tidak mampu bereproduksi lagi, dan istrinya pun sudah mati haid. Tak ada cara alamiah untuk menggenapi janji tersebut. Abraham hanya boleh berharap kepada Tuhan saja, yaitu Satu-satunya yang dapat menepati janji-Nya.
Yang kedua, ketika janji itu digenapi pada akhirnya, segala kemuliaan atau sanjungan benar-benar diberikan kepada Tuhan. Ingat, tujuan semua janji itu adalah supaya Tuhan saja yang disanjung. Apabila ada kemungkinan bahwa kita akan melakukan sesuatu dengan kekuatan sendiri, siapa tahu, nanti kita merasa turut berjasa. Tetapi setelah kita sampai ke titik di mana kita tahu benar bahwa kita tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri, hilanglah semua kepercayaan diri kita, dan segala kemuliaan dapat diberikan kepada Tuhan.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, atas janji bahwa kami dapat memasuki istirahat-Mu. Ku-deklarasikan, tujuan dari janji-janji itu adalah supaya Tuhan dimuliakan. Aku akan berusaha untuk rajin. Amin.

Unduh Gratis
Renungan ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan untuk penggunaan pribadi atau gereja.
Kode: WD-B097-292-IND









