Berpakaian Kebenaran

Derek Prince
Published: 2008
Last Updated: Juli 2026
Read Time: 2
Allah sendiri menyebut Ayub sebagai orang benar, memperlihatkan gambaran yang kuat tentang seperti apa iman sejati ketika diwujudkan dalam tindakan. Kebenaran dari Allah ini bukanlah sekadar perasaan, melainkan diukur melalui belas kasihan kita kepada orang miskin, janda, dan anak yatim.
Di bawah ini adalah kesaksian Ayub mengenai pola kehidupannya. Tuhan sendiri bersaksi bahwa Ayub memang seorang yang benar/ saleh. Kata-kata di bawah ini begitu menyentuh hatiku, sehingga saya sungguh tidak bisa melupakannya:
“Apabila telinga mendengar tentang aku, maka aku disebut berbahagia; dan apabila mata melihat, maka aku dipuji. Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya; aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria; aku berpakaian kebenaran [kesalehan] dan keadilan [kesalehan] menutupi aku seperti jubah dan serban; aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh; aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki.”
(Ayub 29:11–16)
Dikatakan, kebenaran/ kesalehan Ayub itu bukanlah berasal dari dirinya sendiri. Tidakkah hal itu mengherankan? Memang, dalam seluruh Alkitab tidak ada orang yang membanggakan kebenarannya sendiri. Ayub berkata:
“Aku berpakaian kebenaran dan keadilan menutupi aku seperti jubah dan serban.”
Ia berjubahkan kebenaran/ kesalehan yang telah ditransfer Tuhan kepada-Nya oleh karena imannya. Begitulah kebenaran/ kesalehan itu akhirnya mulai muncul dalam hidupnya.
Kaum miskin, para janda dan anak-anak yatim, sesungguhnya adalah obyek utama belas kasihan Tuhan. Inilah kelompok masyarakat yang selalu dipikirkan oleh Tuhan apabila Ia berbicara mengenai kebenaran/ kesalehan, yaitu para janda, para yatim, kaum miskin, serta kaum yang buta dan yang lumpuh. Kita dapat mengukur sendiri seberapa jauh kita memiliki kebenaran/ kesalehan Tuhan, dengan melihat bagaimana kita berurusan dengan manusia-manusia seperti itu.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau sedemikian memperhatikan. Ku-deklarasikan, orang-orang miskin, para janda dan anak yatim merupakan obyek belas kasihan Tuhan – dan mereka harus juga menjadi obyek belas kasihanku. Seperti seorang bapa berbelas-kasihan akan anak-anaknya, demikian juga Allah berbelas-kasihan kepadaku. Amin.

Unduh Gratis
Renungan ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan untuk penggunaan pribadi atau gereja.
Kode: WD-B097-259-IND









