Sasaran Tujuan Kita yang Rohani

Derek Prince
Published: 2008
Last Updated: Juli 2026
Read Time: 2
Perintah Allah untuk mengejar kesempurnaan sering disalahpahami, sehingga banyak orang menjauh dari apa yang tampak sebagai standar yang mustahil dicapai. Pesan ini mendefinisikan ulang kesempurnaan sebagai kedewasaan rohani menurut Alkitab, dan menunjukkan kepada Anda bagaimana berpegang pada standar Allah sambil tetap hidup dalam realitas Anda yang sesungguhnya.
“Sebab itu, marilah kita maju ke pelajaran-pelajaran yang lebih lanjut tentang kedewasaan kehidupan Kristen [KJV: ‘marilah kita maju terus menuju kesempurnaan’], dan jangan hanya memperhatikan asas-asas pertama ajaran agama kita. Jangan kita mengulangi lagi pelajaran dasar bahwa orang harus berhenti melakukan hal-hal yang tidak berguna dan harus percaya kepada Allah, atau pelajaran dasar mengenai pembaptisan atau mengenai meletakkan tangan atas orang, atau mengenai hidup kembali sesudah mati atau hukuman yang kekal.”
(Ibrani 6:1–2, BIMK)
Kita ingin maju terus menuju kesempurnaan. Namun seperti sudah saya katakan sebelumnya, kata “kesempurnaan” itu kedengarannya kurang menarik bagi sebagian besar orang Kristen. Itu adalah karena mereka telah diajari doktrin mengenai kesempurnaan yang artinya “sama sekali tidak berdosa.” Pada umumnya, justru orang-orang yang dikatakan telah mencapai kesempurnaan terbukti jauh dari sempurna, baik dari kata-kata, perilaku maupun cara hidupnya. Sikap yang munafik itu telah membuat banyak orang tidak tertarik lagi untuk mengejar kesempurnaan.
Saya ingin mengingatkan saudara kembali bahwa kata “kesempurnaan” tadi sesungguhnya dapat diterjemahkan dengan tiga cara lain yang jauh lebih masuk akal: “kedewasaan,” “kepenuhan”, dan “kelengkapan.” Kata Yunani yang diterjemahkan “kesempurnaan” itu berasal dari kata benda yang berarti “akhir.” Oleh karena itu, kata tersebut sebenarnya mengisyaratkan sebuah sasaran yang hendak dicapai. Saya rasa semua kita setuju bahwa ada baiknya untuk mempunyai sasaran tujuan rohani. Setelah mulai berada di jalan kebenaran karena iman, kita mempunyai pilihan: apakah akan melanjutkan perjalanan atau berbalik kembali. Pasti Tuhan tidak suka akan orang yang berbalik kembali. Sebab itu kita ingin bergerak maju sampai jiwa kita diselamatkan dengan seutuhnya.
(Lihat
“Ibrani 10:38-39.”)
Yang kita lihat, ada dua perkara, yaitu keadaan yang aktual (yang sesungguhnya dihadapi), dan keadaan yang ideal. Apabila orang sudah matang dan dewasa, ia dapat melihat yang ideal, namun hidup dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang aktual. Jika kita menerima yang aktual dan menolak yang ideal, itu jelas salah. Tetapi hanya mau menerima yang ideal saja dan menolak yang aktual adalah suatu sikap yang kurang dewasa. Janganlah kita mengkritik yang aktual, mentang-mentang kita sudah mengerti bagaimana idealnya. Jangan pula menolak yang ideal, karena yang saudara lihat sehari-hari adalah yang aktual. Kedewasaan berarti belajar untuk hidup bersama keadaan yang aktual, tetapi tetap berharap kepada yang ideal.
*Prayer Response
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau terus memimpin aku untuk maju. Ku-deklarasikan, aku termasuk orang-orang yang maju terus menuju keselamatan jiwa yang seutuhnya – yaitu untuk mencapai kedewasaan, kepenuhan, dan kesempurnaan. Aku akan maju terus menuju kedewasaan. Amin.

Unduh Gratis
Renungan ini tersedia untuk diunduh, dicetak, dan dibagikan untuk penggunaan pribadi atau gereja.
Kode: WD-B097-315-IND









